dikekang sunyi


ketika harap tak mampu lagi merayap
hanya terdiam menengadah dipendam gelisah
merutuk sepi dalam sunyi tanpa bebunyi
tak menghirau amar yang menggelegar
membentuk barisan aposisi pada amunisi
dirajam mesiu wangi gaharu
di dalam jangkat rotan yang terikat di kaki dipan
meringkih kaku padahal dulu gigih berseru
sungguh bebal dalam ukuran yang katanya kekal
di waktu asyik menenun sampai majenun
bersulut-sulut lalu kumisnya beringsut
membelai miang yang terkekang oleh berang
ditimpuk sepi sampai melapuk
mengantar pada inferno yang katanya hanya kuno
dan mustahil untuk selamat hanya menunggu lumat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar